Rabu, 01 April 2009

belajar bhs inggris sambil bernyanyi

RINGKASAN

Mencermati perkembangan anak dan perlunya pembelajaran pada anak usia dini, tampaklah bahwa ada dua hal yang perlu diperhatikan pada pendidikan anak usia dini, yakni: 1) materi pendidikan, dan 2) metode pendidikan yang dipakai. Mengingat bahasa Inggris merupakan bahasa asing di Indonesia, tentunya proses pembelajarannya memerlukan pendekatan yang tepat dan efektif. Keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia dini sangat dipengaruhi oleh kemampuan seorang guru dalam menyajikan proses kegiatan belajar mengajar yang menarik dan menyenangkan bagi anak. Bagaimanakah cara belajar bahasa inggris dengan bernyanyi pada anak usia dini?
Anak usia dini meliputi usia 0 - 6 tahun. Pada usia 0 - 2 tahun pertumbuhan fisik jasmaniah dan pertumbuhan otak dilakukan melalui yandu (pelayanan terpadu) antara Depertemen Kesehatan, Depsosial, BKKBN dan Depdiknas. Dalam program PAUD, diharapkan Depdiknas menjadi "Leading Sector". Pada usia 2 - 4 tahun layanan dilakukan melalui penitipan anak (TPA) atau Play Group. Pada usia 4 - 6 tahun layanan dilakukan melalui Taman Kanak-kanak (TK - A dan TK - B).
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Ada empat tingkat perkembangan anak menurut Erikson, yaitu : Pertama, usia anak 0 - 1 tahun yaitu trust Vs mistrust. Kedua, usia 2 - 3 tahun, yaitu autonomy Vs shame and doubt. Ketiga, usia 4 - 5 tahun, yaitu Inisiative Vs Guilt, yaitu pengasuhan dengan memberi dorongan untuk bereksperimen dengan bebas dalam lingkungannya. Keempat, usia 6 - 11 tahun, yaitu Industry Vs Inferiority, bila anak dianggap sebagai "anak kecil" baik oleh orang tua, guru maupun lingkungannya, maka akan berkembang rasa rendah diri, dampaknya anak kurang suka melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual, dan kurang percaya diri.
Kurikulum TK dikembangkan berdasarkan integrated curriculum (kurikulum terintegrasi) dengan pendekatan tematik. Kurikulum diorganisasikan melalui suatu topik atau tema. Katz dan Chard (1989) yang dikutip oleh Soemiarti Patmonodewo (2003) menetapkan kriteria untuk memilih tema yaitu: ada keterkaitannya, kesempatan untuk menerapkan keterampilan, kemungkinan adanya sumber, minat guru.
Bermain merupakan proses pembelajaran di TK, yang berupa bermain bebas, bermain dengan bimbingan dan bermain yang diarahkan. Bentuk-bentuk bermain antara lain bermain sosial, bermain dengan benda dan bermain sosio dramatis.
Menyanyi selain sebagai kegiatan yang dapat membawa fun tersendiri bagi anak, dapat juga mengembangkan imajinasi dan rasa percaya diri anak, sehingga memacu anak untuk lebih kreatif dan berani tampil didepan umum, kemampuan anak dalam bernyanyi pada usia dini ini biasanya didasarkan oleh pengalamannya pada saat mendengar musik ataupun mendengar orang tua dan orang-orang disekitarnya bernyanyi. Berdasarkan survey dan penelitian, semakin sering anak mendengar orang tua atau orang disekitarnya menyanyi dengan benar dan sesuai dengan nada, semakin besar kemungkinan anak bisa menyanyi di usia 2 tahun.
Pembelajaran Bahasa Inggris khususnya pada anak usia dini, lebih menekankan pada pengenalan akan perintah-perintah dasar (Basic Instructions) dan pengetahuan akan nama-nama benda atau objek yang ada di sekitar mereka (Vocabulary). Maka pemanfaatan metode bernyanyi dalam KBM dapat dilakukan dengan Pengenalan terhadap bahasa inggris dapat dilakukan oleh anak di TK. Setiap guru menginginkan anak didiknya berhasil apa yang diharapkan pandai dan berguna bagi anak nantinya.
Pengajaran Bahasa Inggris di sekolah-sekolah bertujuan memungkin anak didik memiliki penguasaan pemakaian Bahasa dengan baik dan benar sehingga anak dapat :
Memanfaatkan buku dan bahan kepustakaan lainnya yang sebahagian besar tertulis di dalam Bahasa Inggris.
Memahami pelajaran yang diberikan oleh pengajar asing.
Mampu berkomunikasi secara lisan dengan orang asing.
Namun dalam mengenalkan bahasa pada anak terutama pengajaran bahasa inggris yang dibantu oleh orang tua, pendidik tidak harus memaksakan anak untuk menggunakan bahasa yang diajarkan tetapi guru harus menanamkan rasa tanggung jawab dan memberikan kebebasan kepada anak dalam batas-batas tertentu. Seorang guru perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk berfikir dan bekerja sama dilingkungannya agar dapat berkomunikasi dengan baik.
Sebagai pengantar pembelajaran suatu materi ajar, guru dapat menggunakan nyanyian sebagai appersepsinya.
Contoh: Ketika mengajar dengan tema wajahku, guru dapat mengajak anak menyanyi antara lain: lagu “My Face” Demikian juga ketika mengajarkan tema-tema ajar lainnya, seperti tema mengenal buah-buahan. Nyanyian sebagai materi ajar, di dalam pembelajarannya tidak hanya dinyanyikan tetapi juga dibaca dan dipahami oleh anak. Karenanya materi nyanyian harus disesuaikan dengan usia anak, agar menyanyi menjadi sesuatu kegiatan yang menyenangkan bukan menjadikan beban.Dengan proses kegiatan belajar mengajar yang menarik dan variatif, tentunya dapat memotivasi anak untuk semakin senang dan menyukai pembelajaran Bahasa Inggris.








BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Mencermati perkembangan anak dan perlunya pembelajaran pada anak usia dini, tampaklah bahwa ada dua hal yang perlu diperhatikan pada pendidikan anak usia dini, yakni: 1) materi pendidikan, dan 2) metode pendidikan yang dipakai. Secara singkat dapat dikatakan bahwa materi maupun metodologi pendidikan yang dipakai dalam rangka pendidikan anak usia dini harus benar-benar memperhatikan tingkat perkembangan mereka. Kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa Inggris sangatlah dibutuhkan seiring dengan kemajuan sebuah negara. Karenanya pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional mulai diperkenalkan sedini mungkin kepada anak didik di Indonesia saat ini.
Mengingat bahasa Inggris merupakan bahasa asing di Indonesia, tentunya proses pembelajarannya memerlukan pendekatan yang tepat dan efektif. Keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia dini sangat dipengaruhi oleh kemampuan seorang guru dalam menyajikan proses kegiatan belajar mengajar yang menarik dan menyenangkan bagi anak. Sejalan dengan keberadaan seorang anak yang senang menyanyi dan bergerak maka gerak dan lagu adalah salah satu pendekatan yang sangat tepat jika digunakan sebagai sarana dalam menyajikan proses pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia dini. Menyajikan proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi anak dengan tidak meninggalkan kaidah berbahasa Inggris yang baik dan benar, melalui gerak dan lagu akan memotivasi anak untuk lebih senang mempelajari bahasa Inggris. Dengan menyanyi anak menjadi senang dan lebih mudah dalam memahami materi ajar yang disampaikan.

1.2 Rumusa masalah
Bagaimanakah cara mengajar bahasa inggris dengan bernyanyi pada anak usia dini?
1.3 Tujuan
Untuk menjelaskan cara mengajar bahasa inggris dengan bernyanyi pada anak usia dini
1.4 Manfaat
Sebagai bahan referensi untuk para pendidik dan menemukan metode baru dalam mengajarkan bahasa inggris pada anak usia dini

























BAB II
TELAAH PUSTAKA

2.1 Pendidikan Anak Usia Dini
Anak usia dini meliputi usia 0 - 6 tahun. Pada usia 0 - 2 tahun pertumbuhan fisik jasmaniah dan pertumbuhan otak dilakukan melalui yandu (pelayanan terpadu) antara Depertemen Kesehatan, Depsosial, BKKBN dan Depdiknas. Dalam program PAUD, diharapkan Depdiknas menjadi "Leading Sector".
Pada usia 2 - 4 tahun layanan dilakukan melalui penitipan anak (TPA) atau Play Group. Pada usia 4 - 6 tahun layanan dilakukan melalui Taman Kanak-kanak (TK - A dan TK - B).
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

2.2 Perkembangan Kepribadian dan Kognitif Anak Usia Dini
Ada empat tingkat perkembangan anak menurut Erikson, yaitu :
Pertama, usia anak 0 - 1 tahun yaitu trust Vs mistrust. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus dalam pemenuhan kebutuhan dasar bayi menimbulkan "trust" pada bayi terhadap lingkungannya. Apabila sebaliknya akan menimbulkan "mistrust" yaitu kecemasan dan kecurigaan terhadap lingkungan.
Kedua, usia 2 - 3 tahun, yaitu autonomy Vs shame and doubt. Pengasuhan melalui dorongan untuk melakukan apa yang diinginkan anak, dan sesuai dengan waktu dan caranya sendiri dengan bimbingan orang tua/guru yang bijaksana, maka anak akan mengembangkan kesadaran autonomy. Sebaliknya apabila guru tidak sabar, banyak melarang anak, menimbulkan sikap ragu-ragu pada anak. Jangan membuat anak merasa malu.
Ketiga, usia 4 - 5 tahun, yaitu Inisiative Vs Guilt, yaitu pengasuhan dengan memberi dorongan untuk bereksperimen dengan bebas dalam lingkungannya. Guru dan orang tua tidak menjawab langsung pertanyaan anak (ingat metode Chaining nya Gagne), maka mendorong anak untuk berinisiatif sebaliknya, bila anak selalu dihalangi, pertanyakan anak disepelekan, maka anak akan selalu merasa bersalah.
Keempat, usia 6 - 11 tahun, yaitu Industry Vs Inferiority, bila anak dianggap sebagai "anak kecil" baik oleh orang tua, guru maupun lingkungannya, maka akan berkembang rasa rendah diri, dampaknya anak kurang suka melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual, dan kurang percaya diri. (Ruslan:2007)

2.3 Kurikulum PAUD
Kurikulum TK dikembangkan berdasarkan integrated curriculum (kurikulum terintegrasi) dengan pendekatan tematik. Kurikulum diorganisasikan melalui suatu topik atau tema. Katz dan Chard (1989) yang dikutip oleh Soemiarti Patmonodewo (2003) menetapkan kriteria untuk memilih tema yaitu: ada keterkaitannya, kesempatan untuk menerapkan keterampilan, kemungkinan adanya sumber, minat guru.
Bahan-bahan untuk mengembangkan tema antara lain :
a) Lingkungan anak seperti : rumah, keluarga, sekolah, permainan, diri sendiri.
b) Lingkungan : kebun, alat transportasi, pasar, toko, museum.
c) Peristiwa : 17 Agustus, hari Ibu, upacara perkawinan.
d) Tempat : Jalan raya, sungai, tempat bersejarah
e) Waktu : jam, kalender, dan sebagainya.(Sismanto:2007)

2.4 Bermain sebagai Proses Belajar
Bermain merupakan proses pembelajaran di TK, yang berupa bermain bebas, bermain dengan bimbingan dan bermain yang diarahkan. Bentuk-bentuk bermain antara lain bermain sosial, bermain dengan benda dan bermain sosio dramatis.
Bermain sosial terdiri dari bermain seorang diri (solitary play), bermain dimana anak hanya sebagai penonton (onlooker play), bermain paralel (parallel play), bermain asosiatif (associative play) dan bermain kooperatif (cooperative play).

2.5 Belajar dengan Bernyanyi
Menyanyi selain sebagai kegiatan yang dapat membawa fun tersendiri bagi anak, dapat juga mengembangkan imajinasi dan rasa percaya diri anak, sehingga memacu anak untuk lebih kreatif dan berani tampil didepan umum, kemampuan anak dalam bernyanyi pada usia dini ini biasanya didasarkan oleh pengalamannya pada saat mendengar musik ataupun mendengar orang tua dan orang-orang disekitarnya bernyanyi. Berdasarkan survey dan penelitian, semakin sering anak mendengar orang tua atau orang disekitarnya menyanyi dengan benar dan sesuai dengan nada, semakin besar kemungkinan anak bisa menyanyi di usia 2 tahun.
Anak yang berusia 2 tahun yang baru lancar bicara tentu dengan pelafalan yang terkadang masih belum pas biasanya terdorong mulai menyanyi. Selain fun, kegiatan menyanyi memunculkan keasyikan tersendiri: mengembangkan imajinasi, memberi rasa percaya diri saat diberi tepukan, serta mengeksplorasi kemampuan bernyanyi anak.
Selain itu, keuntungan kegiatan ini bagi anak adalah ia bisa berlatih memperkaya kosa kata, dan secara aktif bereksperimen dengan beragam intonasi nada, panjang-pendeknya suara, dan naik-turunnya nada bicara. Apabila anak bermasalah dalam perkembangan bicara atau bermasalah pada indera pendengarannya. Jika mengalami gangguan, dalam rentang usia 2-3 tahun biasanya anak belum bisa memproduksi bunyi bahasa dengan sempurna, apalagi menyanyi.
Tentu modal penting lain adalah kemahiran anak meniru. Di tahap awal, ia mampu menyanyi dengan cara mengikuti Anda menyanyi. Di tahap berikut, inisiatif menyanyi akan datang dari dirinya. Meski awalnya sering meleset membidik nada, namun semakin sering berlatih membuat si kecil mampu menyanyi dengan baik secara tepat nada dan pelafalan di usia 3-3,5 tahun.
Menyanyi tak hanya bagian dari kecerdasan seni, melainkan juga cara mengasah kecerdasan sosial-emosi anak terasah karena ia harus menyajikan lagu dengan emosi dan ekspresi yang tepat, sesuai isi lagu. Dari sisi kesehatan, menyanyi dapat melatih seluruh otot kepala dan leher serta membantu si kecil mengasah organ pendengarannya. Demikian pula ia melafalkan dengan tepat kata demi kata.

2.6 Fungsi Bahasa Inggris
Perkembangan politik kebahasaan bahkan selalu diarahkan untuk lebih memperkukuh Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang sangat diperlukan untuk penyatuan dan kesatuan bangsa. Setelah Bahasa Indonesia berfungsi dengan baik, muncullah keputusan mendikbud pada bulan Januari 1998 yang mengizinkan Bahasa Inggris dipakai sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan.
Adapun fungsi resmi dari Bahasa Inggris itu sendiri adalah sebagai berikut :
Sebagai masyarakat dunia, Indonesia memerlukan pemakaian bahasa asing terutama Bahasa Inggris yang berguna untuk penghubung antar bangsa.
Alat pembantu pengembangan Bahasa Indonesia menjadi bahasa modern.
Alat pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk pembangunan nasional.
Bahasa Inggris yang dipakai sebagai ilmu pengetahuan dan teknologi modern dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber untuk kepentingan pengembangan bahasa nasional Indonesia terutama di dalam pengembangan tata istilah. (Halim dalam setiawan1976: 146)

2.7 Dampak Bahasa Inggris
Sebagai akibat dari adanya hubungan dengan dunia luar, masyarakat Indonesia telah mengenal suatu bahasa asing terutama bahasa Inggris. Masuknya bahasa Inggris ke Indonesia sudah terjadi sejak dulu kala. Dari hubungan ini bahasa Inggris mempunyai dampak positif dan dampak negatif bagi bangsa Indonesia (Sudarsono dalam setiawan 2000: 18)
a. Dampak Positif
Dampak positif dari bahasa Inggris di Indonesia adalah bertambahnya kosakata bahasa melalui penyerapan bahasa Inggris yang memang diperlukan, karena kosa kata ini belum ada dalam bahasa Indonesia. Dampak positif ini merupakan dampak yang baik bagi anak karena seorang pendidik telah berhasil mendidik anak mempeunyai tingkah laku yang baik.
Dampak yang baik antara lain:
Anak merasa senang bergaul dengan lingkungan sekitarnya
Anak akan mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk
Anak akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan
b. Dampak Negatif
Dampak negatif yang terjadi terutama dalam dasawarsa pada saat ini, adalah sikap masyarakat yang merasa bangga dengan menggunakan bahasa Inggris secara sepotong-sepotong dalam berkomunikasi dengan lawan bicaranya.
Dari dampak negatif bahasa Inggris tersebut bukan berarti kita tidak boleh menggunakan atau memakainya dalam kehidupan tetapi, kuasailah bahasa Inggris itu secara sempurna dan pakailah pada kesempatan yang tepat.Dari dampak-dampak di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pemakaian bahasa Inggris di Indonesia masih pelu ditingkatkan agar bangsa Indonesia dapat memasuki pergaulan dunia. Walau masih sedikit bangsa Indonesia yang mampu menguasai bahasa Inggris dengan baik dan benar namun mata pelajaran bahasa Inggris tetap diajarkan lembaga-lembaga sekolah yang wajib ditempuh oleh anak didik. Berbagai aspek pengajaran bahasa asing khususnya bahasa Inggris dalam lembaga-lembaga pendidikan memerlukan perhatian dan perbaikan yang sangat serius dalam pengajaran bahasa Inggris bagi anak usia dini perlu diajarkan pada anak sejak awal.
Sesuai dengan pendapat Gardner dalam buku Duane Schuhz Psikologi Perkembangan (1975: 89) menyatakan: Seorang anak jika diajarkan/ dididik dari awal maka anak berhasil di masa depan dan sebalikny, jika gagal mendidik anak maka awal dari kehidupan anak sekolah awal kehancuran.
Aspek yang perlu dalam pengajaran bahasa Inggris bagi anak antara lain:
1. Pelaksanaan program pengajaran
2. Kegiatan belajar mengajar
3. Kemampuan guru
4. Penggunaan dan tersedianya sarana dan prasarana atau tersedianya sumber belajar lainnya (setyawan:2006)

2.8 Belajar Bahasa Inggris dengan Bernyanyi
Pengajaran Bahasa Inggris di sekolah-sekolah bertujuan memungkin anak didik memiliki penguasaan pemakaian Bahasa dengan baik dan benar sehingga anak dapat :
Memanfaatkan buku dan bahan kepustakaan lainnya yang sebahagian besar tertulis di dalam Bahasa Inggris.
Memahami pelajaran yang diberikan oleh pengajar asing.
Mampu berkomunikasi secara lisan dengan orang asing.
Ibnu Jinni dalam setiawan mengatakan bahwa :
Bahasa adalah suara yang digunakan oleh setiap bangsa untuk mengungkapkan maksudnya. Jadi bahasa merupakan ungkapan suara yang dihasilkan oleh gerakan alat dan ditangkap oleh telinga. Fase-fase perkembangan bahasa dimulai dari jeritan, teriakan kemudian ocehan yang sistematis melalui peniruan dan pengajaran.
Mengingat Bahasa Inggris merupakan bahasa asing di Indonesia, maka proses pembelajarannya harus dilakukan secara bertahap. Pemilihan materi yang sesuai dengan usia anak dan situasi belajar yang menyenangkan haruslah menjadi perhatian utama dalam berhasilnya suatu proses pembelajaran. Keberhasilan proses pembelajaran Bahasa Inggris pada anak usia dini tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain:
Guru yang berkualitas, guru yang dapat menghidupkan proses kegiatan belajar mengajar.
Sumber dan fasilitas pembelajaran yang memadai dan memenuhi syarat adekuat).
Kurikulum yang baik, sederhana, dan menarik (atraktif).
Di sisi lain perlu dipahami bahwa usia dini adalah usia bermain. Setiap anak adalah pribadi yang unik dan dunia bermain serta bernyanyi merupakan kegiatan yang serius namun mengasyikan bagi mereka. Maka pendekatan yang tepat perlu diciptakan oleh seorang pendidik agar proses pembelajaran Bahasa Inggris lebih menarik dan menyenangkan tanpa meninggalkan kaidah-kaidah bahasa yang benar. Pendekatan yang digunakan hendaknya sejalan dengan tujuan pengenalan bahasa pada umummnya. Tujuan tersebut ialah supaya anak dapat memahami cara berbahasa yang baik dan benar, berani mengungkapakan ide atau pendapatnya dan dapat berkomunikasi dengan lingkungannya.














BAB III
METODE PENULISAN
Dalam penulisan karya tulis ini, penulis menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif. Karya tulis ini tergolong mendiskripsikan makna dan data yang di dapatkan oleh penulis. Metode ini juga diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah.
3.1 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini diperoleh dari guru pengajar PAUD dalam hal ini PAUD Matahari yang berada di desa Sumber Tempur.
3.2 Tekhnik Pencarian Data
1) Pengumpulan data dengan observasi langsung
yaitu cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut.
Observasi ini dilaksanakan dalam rangka pengamatan mandiri terhadap kegiatan pengajaran yang dilaksanakandi PAUD Matahari.
2) Pengumpulan data dengan wawancara
Yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakaan interview guide (panduan wawancara)
Dalam hal ini adalah ibu Siti yang merupakan salah satu guru PAUD di desa Sumber Tempur.
Anak usia dini3.3 Kerangka Berfikir
pendidikan
Perkembangan jasmani+otak
Kemampuan berahasa (inggris)
materi
metode
Bermain dan bernyanyi






BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS
Pembelajaran Bahasa Inggris khususnya pada anak usia dini, lebih menekankan pada pengenalan akan perintah-perintah dasar (Basic Instructions) dan pengetahuan akan nama-nama benda atau objek yang ada di sekitar mereka (Vocabulary). Maka pemanfaatan metode bernyanyi dalam KBM dapat dilakukan sebagai berikut.
Cara Guru Dalam Mengenalkan Bahasa Inggris
Pengenalan terhadap bahasa inggris dapat dilakukan oleh anak di TK. Setiap guru menginginkan anak didiknya berhasil apa yang diharapkan pandai dan berguna bagi anak nantinya.
Namun dalam mengenalkan bahasa pada anak terutama pengajaran bahasa inggris yang dibantu oleh orang tua. Pendidik tidak harus memaksakan anak untuk menggunakan bahasa yang diajarkan tetapi guru harus menanamkan rasa tanggung jawab dan memberikan kebebasan kepada anak dalam batas-batas tertentu.
Menurut pendapat Carl Rogers dalam bukunya Agus Sujanto psikologi umum (1902 : 31) menyatakan bahwa :Seorang guru perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk berfikir dan bekerja sama dilingkungannya agar dapat berkomunikasi dengan baik. Penggunaan bahasa pada anak masih jauh dari kata sempurna, jangankan menggunakan bahasa inggris, bahasa Indonesia saja anak masih belum bisa, oleh karena itu orang tua dan guru harus saling membantu dalam mengenalan bahasa pada anak, demi tercapainya hal tersebut cara guru yang dapat dilakukan antara lain :
Memberikan kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan perasaannya dalam berkomunikasi dengan lingkungannya.
Membuat alat peraga yang dapat membantu anak dalam memahami pelajaran.
Memberikan bimbingan kepada anak.
Mengenalkan cara mengatakan huruf-huruf alvabeth kepada anak.
Mengulang sesering mungkin pelajaran yang telah diajarkan agar anak mudah mengingatnya.

4.1 Sebagai Pembuka (Doa dan Salam)
Setiap proses belajar hendaknya diperkenalkan juga kepada anak untuk berdoa dan saling mengucapkan salam. Melalui kegiatan berdoa pendidik dapat mengenalkan dan membina anak agar selalu dekat kepada Tuhan
Untuk mendapatkan atensi anak sebelum memulai pembelajaran, anak diajak untuk dapat duduk baik dengan hati yang senang (tidak dalam keadaan terpaksa). Hal ini dilakukan dengan mengajak anak menyanyikan lagu dengan nyaman. Kemudian memulai dengan belajar menghafal huruf abjad atau alfabet dengan lagu A,B,C,D dan seterusnya.
Nyanyian (lagu) ini dapat dinyanyikan dengan posisi anak duduk membentuk lingkaran di lantai, dan bernyanyi dengan menunjukkan huruf-huruf alfabet. Guru sebagai model haruslah dapat menghidupkan suasana kelas agar anak merasa nyaman dengan lagu yang dinyanyikan bersama. Melalui nyanyian ini anak diharapkan dapat memahami dan mulai menghafal huruf-huruf alfabet.

4.2 Sebagai Apersepsi
Sebagai pengantar pembelajaran suatu materi ajar, guru dapat menggunakan nyanyian sebagai appersepsinya.
Contoh: Ketika mengajar dengan tema wajahku, guru dapat mengajak anak menyanyi antara lain: lagu “My Face”
“My Eyes, my ears, my nose, my mouth, 2x”
Demikian juga ketika mengajarkan tema-tema ajar lainnya, seperti tema mengenal buah-buahan dapat juga menggunakan lagu misalnya, “water melon”,
“Water melon-water melon.. papaya-papaya…banana-banana….pinaple-pinaple…”
Ketika anak menyanyikan lagu ini, guru dapat sambil menunjukan kartu atau gambar yang dimaksud. Sehingga diharapkan anak dapat memahami bentuk atau gambar buah-buahan secara visual dan melafalkan bunyinya dengan baik dan benar. Dapat juga langsung melibatkan anak-anak dengan memegang gambar buah masing-masing dan menunjuk buah yang dimaksud secara bergantian. Contoh lain dapat dicari dari berbagai sumber yang sudah ada, atau juga diciptakan oleh guru sendiri dengan mempertimbangkan kesesuaian antara situasi dan kondisi serta materi yang akan disampaikan.
Masih banyak nyanyian (lagu) anak-anak yang dapat dinyanyikan untuk appersepsi ini. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah, nyanyian yang dipilih haruslah sesuai dengan materi ajar yang akan disampaikan dan tingkat perkembangan kejiwaan anak.
Nyanyian sebagai materi ajar, di dalam pembelajarannya tidak hanya dinyanyikan tetapi juga dibaca dan dipahami oleh anak. Karenanya materi nyanyian harus disesuaikan dengan usia anak, agar menyanyi menjadi sesuatu kegiatan yang menyenangkan bukan menjadikan beban.
Dengan proses kegiatan belajar mengajar yang menarik dan variatif, tentunya dapat memotivasi anak untuk semakin senang dan menyukai pembelajaran Bahasa Inggris.











BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Orang tua dan guru harus saling membantu dalam mengenalan bahasa pada anak, demi tercapainya hal tersebut cara guru yang dapat dilakukan antara lain :
Memberikan kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan perasaannya dalam berkomunikasi dengan lingkungannya.
Membuat alat peraga yang dapat membantu anak dalam memahami pelajaran.
Memberikan bimbingan kepada anak.
Mengenalkan cara mengatakan huruf-huruf alvabeth kepada anak.
Mengulang sesering mungkin pelajaran yang telah diajarkan agar anak mudah mengingatnya.
Nyanyian (lagu) ini dapat dinyanyikan dengan posisi anak senyaman mungkin, dan bernyanyi dengan menunjukkan huruf-huruf alfabet.
Sebagai pengantar pembelajaran suatu materi ajar, guru dapat menggunakan nyanyian sebagai appersepsinya, mengajarkan nyanyian sesuai dengan tema-tema ajar.
Materi nyanyian harus disesuaikan dengan usia anak, agar menyanyi menjadi sesuatu kegiatan yang menyenangkan bukan menjadikan bebankarena nyanyian sebagai materi ajar, di dalam pembelajarannya tidak hanya dinyanyikan tetapi juga dibaca dan dipahami oleh anak. Dengan proses kegiatan belajar mengajar yang menarik dan variatif, tentunya dapat memotivasi anak untuk semakin senang dan menyukai pembelajaran Bahasa Inggris.

5.2 Saran
Dalam pelaksanaan pengajaran bahasa inggris kepada anak usia dini sebaiknya
guru lebih memperhatikan kemampuan masing-masing anak
menggunakan metode yang bervariasi agar anak-anak tidak bosan
lebih melibatkan anak dalam proses belajar mengajar seperti mengucapkan kata-kata dan menunjuk gambar yang sesuai dengan tema yang dipelajari
DAFTAR PUSTAKA

Semiawan, : 2003 Paradigma Baru Pendidikan Anak Dini Usia, Buletin PAUD Direktorat PAUD, Jakarta
Ruslan, Agus. 2007. Usia Dini yang Baik Landasan Keberhasilan Pendidikan Masa Depan. http://e-pendidikan.net di akses pada tanggal 15 februari 2009
Setyawan, Yasin. 2006. Pebgajaran Bahasa Inggris Pada Anak Usia Dini
http://siaksoft.net diakses pada tanggal 15 februari 2009

Sismnato 2007 Pendidikan Anak Usia Dini http://mkpd.wordpress.com/feed diakses pada tanggal 15 februari 2009




















BIODATA PENULIS
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
Nama : Lailatul nuroniyah
Nim : 05110031
Jurusan : Tarbiyah
Fakultas : Agama Islam
Alamat rumah dan no telp : jl. Tirto Utomo Gg V/8 (085233297497)
2. Anggota
a. Nama : Indra Wahyuni
Nim : 05320044
Jurusan : Matematika
Fakultas : KIP
Alamat rumah dan no telp : Jl Tirto Utomo III/3A

b. Nama : Syaiin Kodir
Nim : 07320023
Jurusan : Matematika
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Alamat rumah dan no telp : jl. Kalisari RT03/II Wonokoyo Kedungkandang Malang (085234041247)
3. Dosen Pembimbing
Nama Lengkap dan Gelar : Dra. Romlah, M.Ag
NIP : 102 8809 0087
Alamat Rumah dan No tel./Hp : Villa Sengkaling Blok F/9 Malang

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda